News
.:News
LNG, Bahan Bakar Kapal Masa Depan
03- March - 2016

JMOL. Anjloknya harga minyak dunia saat ini, sehingga membuat harga BBM konvensional seperti HFO dan HSD berada titik terendah, tidak membuat posisi LNG sebagai bahan bakar masa depan menjadi goyah. Ini lantaran LNG, gas alam yang dicairkan, memiliki banyak kelebihan.

Yang pertama, Cadangan gas metana (CH4), komposisi utama LNG, dapat ditemukan di banyak tempat di dunia dalam jumlah yang signifikan. Menurut IEA, cadangan gas alam cukup untuk memenuhi kebutuhan energi dunia hingga 200 tahun ke depan. Ini belum menghitung tambahan yang signifikan dari penemuan shale gas. Indonesia, misalnya, hanya menempati urutan ke-12 dengan cadangan gas alam sebesar 185,8 TSCF, terdiri dari 97,26 TSCF cadangan terbukti (proven) dan 88,54 TSCF cadangan potensial (Kementerian ESDM RI, 2005). 

Kelebihan kedua adalah karakteristik gas metana yang rendah emisi karbon, tidak mengandung NOx dan SOx, sehingga membuat LNG menjadi bahan bakar yang paling ramah lingkungan di antara hidrokrabon lainnya. Terutama karena rendahnya emisi karbon tersebut, LNG menjadi bahan bakar yang paling direkomendasikan bagi pelayaran dalam menghadapi era ketatnya regulasi pembatasan emisi karbon dan upaya mitigasi pemanasan global yang menjadi kesepakatan dunia di COP21 Paris baru-baru ini.

The International Maritime Organization (IMO) memberlakukan regulasi lingkungan yang ketat mulai awal tahun 2015 lalu, dimana emisi SOx dan NOx dibatasi maksimal 0.1% untuk kawasan ECA (Emmision Control Area). Di luar ECA, regulasi IMO tersebut akan diberlakukan mulai tahun 2020, namun dengan batasan emisi (SOx dan NOx) yang lebih longgar, yaitu maksimal 0.5%.

Komisi Eropa sudah memastikan implementasi MRV (Monitoring, Reporting and Verification regulation) pada awal tahun 2018 mendatang, dimana semua kapal bertonase minimal 5.000 GT wajib melaporkan besaran emisi CO2 jika memasuki perairan dan pelabuhan di seluruh Eropa.

Sejumlah pelabuhan internasional di Eropa bahkan sudah menerapkan semacam insentif, berupa pengurangan biaya jasa pelabuhan, bagi kapal yang menggunakan bahan bakar LNG. Pelabuhan-pelabuhan di pantai timur Amerika Serikat juga dikabarkan menerapkan sistem serupa dalam waktu dekat. Langkah Eropa dan AS, dipastikan akan diikuti oleh negara-negara lain. Pemerintah Hongkong sudah menerapkan hal serupa MRV untuk semua kapal yang bersandar di negara pelabuhan tersebut. 

Jika semakin banyak negara yang memiliki pelabuhan besar menerapkan regulasi pembatasan emisi seperti di atas, maka ruang gerak kapal berbahan bakar konvensional semakin terbatas. 

Bagaimana dengan kapal-kapal Indonesia?. Walau mungkin tidak banyak perusahaan pelayaran nasional yang beroperasi di rute internasional hingga benua eropa atau AS, namun kita perlu mewaspadai jika  regulasi tersebut mulai diadopsi oleh negara Asia seperti Tiongkok dan Singapura. Pelabuhan di kedua negara tersebut merupakan yang paling banyak menjadi tujuan berlayar kapal berbendera merah putih.

Singapura misalnya, sejak lima tahun silam sudah mencanangkan diri menjadi LNG Hub, termasuk LNG bunkering hub. Bahkan mulai tahun depan, negara dengan pelabuhan terbesar kedua di dunia ini sudah berjualan LNG sebagai bahan bakar kapal. Sejumlah kebijakan pendukung berupa pemberian insentif kepada pelaku pelayaran sudah diluncurkan oleh otoritas pelabuhan setempat. Dan, pada saatnya nanti, Singapura diprediksi akan meminta status ECA kepada IMO. Peluang ini sangat besar mengingat IMO kerap menggelar acara bertajuk green shipping dan sustainable shipping di Singapura.

Tahun 2020 bukanlah waktu yang lama. Sebagai negara eksportir LNG terbesar ke-5 dunia, dan pionir dalam industri LNG, sangat cukup bagi Indonesia untuk mempersiapkan industri pelayaran nasionalnya agar tidak kehilangan daya saing di rute internaional.

Sementara untuk pelayaran domestik, kapal-kapal dengan rute tetap berjadwal seperti yang dioperasikan oleh Pelni dan ASDP dapat menjadi pelopor penggunaan LNG sebagai bahan bakarnya. Melalui dorongan dari Kemenhub dan komitmen dari Kementerian BUMN melalui sinergi antar BUMN pelayaran, industri galangan kapal, klasifikasi, produsen LNG, dan pelabuhan, seharusnya upaya kepeloporan di atas tidak akan menemui hambatan yang berarti. Semoga. [Red]

Back

Other news: