News
.:News
KONSEP TOL LAUT
18- August - 2014

Konsep Tol Laut yang dicetuskan oleh presiden terpilih Joko Widodo

Metrotvnews.com, Jakarta :  Konsep Tol Laut yang dicetuskan oleh presiden terpilih Joko Widodo (Jokowi) bagi banyak orang merupakan konsep yang realistis untuk diterapkan sebagai sistem logistik nasional yang dapat mengefisienkan biaya distribusi logistik sehingga berimbas kepada harga barang yang dapat lebih murah.

 
Tol Laut sendiri sebenarnya adalah konsep yang sama dengan Pendulum Nusantara. Pendulum Nusantara sendiri adalah jalur logistik pelayaran dengan menggunakan kapal berukuran besar 3000-4000 TEUs yang pernah dicetuskan oleh Direktur Utama PT Pelindo II RJ Lino. Jalur logistik proyek tersebut akan menghubungkan 6 pelabuhan utama di Indonesia dari barat ke timur, yaitu Belawan-Batam-Tanjung Priok-Tanjung Perak-Makassar-Sorong.
 
Konsep logistik laut kita itu sebenarnya ada dua, yaitu Konsep Logitik Maritim yang dicanangkan oleh pemerintah dalam MP3EI dan Sislognas, dan yang kedua adalah konsep Pendulum Nusantara atau Tol Laut,? kata Ketua Supply Chain Indonesia Setijadi di Jakarta, seperti dikutip Minggu (17/8/2014).
Lebih lanjut Setijadi menjelaskan, kedua konsep tersebut memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Untuk konsep Logistik Maritim dia menjelaskan bahwa konsep tersebut dibuat dengan berpegangan bahwa wilayah Indonesia, yang dibagi ke dalam dua wilayah, yaitu wilayah luar dan wilayah dalam.
 
Konsep Logistik Maritim itu dibuat untuk melindungi wilayah dalam Indonesia, artinya kapal-kapal dari luar nantinya hanya boleh bersandar pada 2 hub pelabuhan yang sudah disiapkan yaitu Pelabuhan Kuala Tanjung di Indonesia Barat, dan Pelabuhan Bitung di Indonesia Timur," ujar dia.
Dengan begitu nantinya pelayaran internasional hanya boleh masuk pada dua pelabuhan tadi. Sedangkan untuk logistik dalam negeri akan dilayani oleh pelayaran nasional.
 
Menurutnya konsep Tol Laut memiliki kelebihan bahwa sistem konsep tersebut mengharuskan penggunaan kapal dengan kapasitas yang besar sehingga akan berdampak pada efisiensi biaya angkut per kontainer.
Namun, menurut Seijadi konsep tersebut akan terhambat oleh masalah infrastrutur pelabuhan, di mana dari enam pelabuhan tersebut baru Pelabuhan Tanjung Priok yang mampu menampung kapal berkapsitas besar, dan juga akan terkendala oleh jumlah kapal berkapasitas besar yang masih sedikit. Sehingga diperlukan investasi agar enam pelabuhan tersebut memiliki fasilitas yang sama, serta untuk pengadaan kapal berkapasitas besar.
 
Kalau dari kajian kami, jika untuk mewujudkan biaya logistik yang efisien, kita cenderung menggunakan konsep Pendulum Nusantara tadi. Tapi, yang harus disiapkan adalah pertama investasi pelabuhan, yang kedua bagaimana industri pelayaran nasional dilibatkan secara optimal, jangan sampai mengembangkan konsep tetapi para pelaku yang berkontribusi selama ini ditinggalkan,? tuturnya.
 
Lebih lanjut Setijadi menjelaskan, dua standar yang sama-sama harus dimiliki enam pelabuhan itu adalah standar operasional kepelabuhanan dan standar manajemen kepelabuhan. Standar perasional kepelabuhan mencangkup hal-hal secara teknis seperti kedalaman kolam dan panjang dermaga sehingga kapal-kapal besar dapat bersandar, serta perlu diperhatikan pula kecepatan jumlah crane untuk aktifitas bongkar muat.
 
Sementara itu dalam hal manajemen kepelabuhan enam pelabuhan tersebut harus memiliki kesamaan pelayanan dalam hal kecepatan bongkar muat, dan memiliki sistem pelayanan pelabuhan yang sama.
 
Sementara itu, dalam kesempatan yang sama Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Institut Pertanian Bogor (IPB) Rokhmin Dahuri menilai konsep yang lebih efisien dan produktif adalah konsep Tol Laut atau Pendulum Nusantara.
 
Alasan, karena luas wilayah Indonesia, sehingga jika distribusi logistik dilakukan dengan Konsep Logistik Maritim yang menitikberatkan hanya pada dua pelabuhan, maka akan menyebabkan biaya yang dikeluarkan untuk mengekspor produk-produk dar berbagai daerah di Indonesia akan lebih mahal.
(Wid)

Back

Other news: