News
.:News
26 Kapal Konstruksi Lepas Pantai Asing Kerja di Indonesia
13- November - 2013

Jakarta—Indonesia National Shipowners’ Association (INSA) mencatat selama enam bulan pertama tahun ini, sedikitnya 26 kapal berbendera non-Merah Putih beroperasi di perairan Indonesia untuk mengerjakan 16 proyek konstruksi lepas pantai (offshore)

Jakarta—Indonesia National Shipowners’ Association (INSA) mencatat selama enam bulan pertama tahun ini, sedikitnya 26 kapal berbendera non-Merah Putih beroperasi di perairan Indonesia untuk mengerjakan 16 proyek konstruksi lepas pantai (offshore).

Jumlah tersebut diperoleh berdasarkan pengajuan klarifikasi ke INSA. Ke-26 kapal itu terdiri dari sembilan kapal jenis Pipe Laying Barge,  tujuh kapal jenis Subsea Umbilical Riser Flexible Vessel (SURF), dan kapal jenis Derrick Crane/ACC dan Cable Laying Barge masing-masing lima unit.

Ketua Bidang Offshore DPP NSA Nova Mugijanto mengatakan  kapal-kapal berbendera luar negeri yang beroperasi untuk kegiatan konstruksi lepas pantai masih memungkinkan beroperasi di Indonesia hingga akhir 2013.

Hal tersebut, katanya, berdasarkan ketentuan perundang-undangan khususnya Peraturan Menteri Perhubungan No.48 tahun 2011. “Tetapi setelah Desember 2013, dispensasi penggunaan bendera luar negeri atas kapal konstruksi lepas pantai dicabut,” katanya.

Dia menjelaskan kapal-kapal yang masih mendapatkan dispensasi berbendera asing tersebut adalah jenis derrick/crane, pipe/cable/subsea umbilical riser flexible (SURF) laying barge/vessel, diving support vessel.

Selain untuk kegiatan konstruksi lepas pantai, terdapat kapal jenis lainnya untuk kegiatan pengerukan dan salvage serta untuk kegiatan pekerjaan bawah air yang akan berakhir masa dispensasi penggunaan bendera luar negeri pada Desember 2013.

Kapal-kapal tersebut adalah jenis drag-head suction hopper dredger dan trailing suction hopper dredger untuk kegiatan pengerukan serta kapal jenis heavy floating crane, heavy crane barge dan survey salvage untuk kegiatan salvage dan pengerjaan bawah air.

Dia mengatakan pasokan kapal berbendera Merah Putih untuk kegiatan konstruksi lepas pantai di Indonesia masih terbatas karena pengadaan kapal jenis ini terkendala akibat tidak adanya kontrak sewa yang bersifat.

Menurut dia, hingga Desember 2012, pasokan kapal nasional untuk konstruksi lepas pantai berdasarkan datatan  SKKMigas baru sebanyak 1 unit, sedangkan kebutuhannya mencapai 63 unit yakni 41 unit untuk produksi dan 22 unit untuk eksploitasi.

Berdasarkan data INSA, hingga Juni 2013, proyek konstruksi lepas pantai  untuk kegiatan oil and gas mencapai 75%,  telekmunikasi sebanyak 17%, sedangkan pertambangan dan kelistrikan masing-masing tercatat sebanyak 4%.

Ke-16 proyek tersebut dilakukan oleh 13 kontraktor lepas pantai, baik perusahaan domestic maupun luar negeri dimana dalam pelaksanaannya, sebagian besar masih didukung dengan kapal-kapal luar negeri.

 

Back

Other news: